Rabu, 19 September 2012

Cinta Seorang Kuli Bangunan

Ketika mata melihat sosok yang di kagumi dan hatipun ikut merasakan getaran itu, benih-benih cinta mulai tertanam namun mulut tak bisa berkata  apa-apa karna sosok yang ada di hadapannya begitu sempurna, matanya bening memencarkan sinar kebahagiaan, kulit  yang begitu  terawat sangat jauh berbeda dengan diri ku. Diri ku hanyalah seorang kuli bangunan yang tiap hari harus bersahabat dengan debu tapi bagaimana dengan hati ini..?Apakah masalah hati harus di kaitkan dengan semua itu? Hati terus menjerit kesakitan lalu iapun protes terhadap mulut.
Hati: Kenapa kamu tega terhadap ku mulut? Apa kamu tidak ikut merasakan  diri ku selalu menjerit memanggil nama nya, tapi kenapa kamu tidak pernah mengungkapnya?
Mulut: Maafkan aku hati, aku tak punya kekuatan apa-apa untuk mengatakan nya, tiap kali aku mau mengungkapnya tapi diri ku seakan terkunci dan tak bisa bercakap?
Hati: Katakan  saja yang sejujurnya mulut, tiap hari kamu ngomel-ngomel tapi kenapa sekarang kamu bilang kamu gak bisa berkata?
Mulut: Kamu harus terima nasib mu, siapa suruh mencintai seorang yang jauh berbeda.
Dalam hati hanya bisa menyalahkan diri, mengapa aku tidak jadi seorang pejabat sehingga aku bisa mendapat kan dia, dalam hati ku bertekat bekerja keras walau sebagai  kuli bangunan aku harus bisa mendapatkan dia.
Haaa… Sekarang aku mau jadi power ranger, agar bisa mencari uang dengan cepat, berubaaah…! (Nur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar